Friday, August 19, 2016

Liburan Keluarga ke Tangkuban Parahu dan Dusun Bambu Bandung

Bandung.... sebuah kota dimana dulu saya menghabiskan 4 tahun waktu saya untuk kuliah menyimpan sebuah kenangan tersendiri. Entah kenapa kok semakin lama semakin asik saja kota ini untuk dikunjungi. Mulai dari jamannya dulu FO atau factory outlet lagi gencar-gencarnya sampai saat ini wisata alam dan wisata budaya yang menurut saya mempunyai value lebih. Kali ini saya mau berbagi pengalaman ke Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu dan Dusun Bambu yang sebetulnya liburan keluarga dadakan karena kebetulan juga selesai training di Bandung.







Kebetulan stay di hotel Aston Primera sekalian menghabiskan jatah training, hotel yang enak dan modern cuma sayang rasa makan biasa-biasa saja, air kamar mandi yang kurang deras, dan letaknya di Pasteur yang aksesnya memang biangnya macet. Selain itu saya sangat senang dengan desain kolam renang dan kolam koinya yang menentramkan hati.






Jumat siang setelah lunch dan Jumatan, saya dan keluarga mulai naik ke Tangkuban Parahu via lembang yang trafficnya hanya tersendat di terminal Ledeng seperti biasanya. Sampai Tangkuban Parahu bayar retribusi Rp. 20,000 / orang dan Rp. 25,000 / mobil. Asiknya disini masih sepi sekali dan tidak crowded jadi benar-benar bisa menikmati pemandangan dan foto-foto tanpa terganggu dengan padatnya wisatawan. Ada perubahan di kawahnya dimana sekarang tidak menampung air lagi, info dari akang pedagang asongan disana infonya tahun lalu kekeringan hebat sampai di kawah ada keretakan, jadi kalau air sudah mulai mengisi kawah cepat airnya habis masuk terserap lagi.





Turun dari Tangkuban parahu mobil saya berhentikan di dekat loket pintu masuk karena banyak monyet, sekalian saya suruh anak-anak kasih makan monyet dengan kacang dari dalam mobil jadi berasa masuk taman safari.


Dari Tangkuban Parahu turun lagi ke arah Lembang sambil stop lagi menikmati sate kelinci tapi rasanya kok biasa aja ya, harganya saja yang luar biasa Rp. 35,000 / 10 tusuk dengan nasi. Yah wajar lah kan mereka gak selalu laku dan hitung-hitung bagi rejeki.




Next day hari Sabtu meluncur lagi naik ke Lembang dan belok kiri di terminal Ledeng via Sersan Bajuri. Ikuti jalan dan ketika ketemu persimpangan ambil arah kiri ke Cimahi, nanti setelah sekolah Advent belok ke kanan dan lurus saja Dusun bambu ada di kanan jalan. Disini setelah parkir mobil bayar Rp. 20,000 / orang dan Rp. 15,000 untuk R4. Jangan lupa tiket bisa ditukarkan dengan air minum. Setelah bayar tiket perjalanan lanjut dengan mobil shuttle dusun bambu sampai ke drop point dibawah pasar khatulistiwa.





Pasar Khatulistiwa ini sebenarnya pusat food court yang bagian tengahnya adalah toko souvenir. Karena hari gerimis jadi setelah foto-foto sebentar lanjut dulu makan siang dulu dengan pembelian sistem voucher. Saya paling suka di Dusun Bambu ini adalah telaganya plus kabin yang memutari danau yang dinamakan Saung Purbasari. Kami sempatkan juga naik perahu bulat yang sudah dihias bunga dengan tarif Rp. 20,000/ orang selama 10 menit.





Puas dengan naik perahu lanjut lagi dengan foto-foto di taman bunganya yang menurut saya sebenarnya gak beda jauh dengan Melrimba Garden Puncak yang reviewnya pernah saya tulis disini dan Taman Bunga Nusantara.





Setelah itu karena play ground anak-anak sudah mulai mengering, anak-anak kami bebaskan main di playground yang tarifnya Rp. 50,000 / anak tanpa batasan usia. Playground ini terletak disebelah pasar khatulistiwa dan bersebelahan dengan play ground juga ada feeding farm kelinci lengkap dengan rumah-rumahannya, ini bayar lagi Rp. 35,000 / orang.








Berhubung sudah capek jadi dari playground mampir sebentar ke lutung kasarung yang kurang lebih bentuknya seperti sarang burung dan banyak jembatan penghubungnya dan ini nice loh pemandangannya.

Saya sarankan kalau weekend ke Dusun bambu ini pagi-pagi saja ketika buka jam 10.00 karena kalau sudah siang masuk akan penuh sesak dan kurang asik lagi, mungkin kalau weekdays akan lebih menyenangkan karena sepi.

Last day, saatnya jalan-jalan ke mantan kampus dulu. Sudah banyak perubahan selain car free day di Dago hari Minggu jadi perlu berputar-putar dulu ke Ganeca setelah itu ternyata didalam kampus juga car free day sampai pukul 12.00. Ngidam bubur kacang hijau di Gelap Nyawang ternyata kalau hari Minggu banyak yang tutup warungnya, hahaha besok-besok Sabtu aja deh atau hari kerja kesininya. Yang selalu buka cuma mesjid Salman dan koperasinya saja




semoga bermanfaat.....