Thursday, September 6, 2018

Review Yamaha Aerox - 3,200 Km Bersama

Si Koneng...... semenjak awal kemunculannya saya sudah dibuat jatuh hati oleh design dan lekukan body nya yang sporty. Berhubung si biru mantan saya (N650) sudah dijual dan saya tidak betah wira wiri ngantor pakai si putih beat pop istri saya jadilah saya meminang si Koneng yamaha Aerox 155 yang standar version. Kenapa saya pilih yang kuning? karena ya menurut saya paling bagus warnanya selain biru, masa iya mau pakai biru lagi. Koneng datang sekitar akhir May 2018 kemudian langsung saya bawa commuting ke kantor. Sampai dengan artikel ini dibuat kurang lebih saya sudah menempuh sekitar 3,200 km bersama baik commuting maupun touring. OK kira-kira gimana kesan serta positif dan negatifnya yang didapat selama 3 bulan dengan 3,200 km itu? cekidot.....





Feel & Ride:
Ini adalah motor matic 1 silinder 155cc dengan teknologi VVA. For me apabila dibandingkan dengan beat pop yang baru pasang filter udara ferrox si Koneng ini berasa sekali lebih menjambak tarikannya terutama di RPM bawah cocok buat saya yang suka sruntulan di kemacetan, hehehe 


Posisi duduk pun tegak dan stang berasa dekat dengan badan, boleh dibilang posisi duduk yang agresif dan sigap. Beda tidak seperti kakaknya Nmax yang relax dan bisa selonjoran, but Aerox ini memang pas dengan karakter saya yang memang agresif. Mau selonjoran juga bisa dengan tumit menumpu ke dek depan tapi telapak kaki mengarah keluar, siap-siap sepatu habis menggesek aspal ketika cornering.


Naik Aerox ini bagian depan tidak berasa begitu besar dibanding naik beat pop tapi membesar di bagian belakang bawah, beberapa kali standar tengah bagian kirinya nyangkut di trotoar ketika selap selip. Kebiasaan pakai si biru yang lebar dibagian atas jadi mepet-mepet trotoar tidak gasruk.


Konsumsi bensin harian untuk commuting ke kantor adalah 1 : 35 - 37 km, 37 Km/L bagi saya sudah rekor karena sudah jalan-jalan alon-alon asal kelakon dan ini sangat membosankan. Buat touring sendirian ke Ciletuh dan Ujung Genteng rekornya 1 : 42 dengan BBM RON 92. Pernah test juga touring tandem boncengan dengan istri ke Bandung tapi selalu gas pol ini cuma dapat 36.8 Km/L untuk jalan sejauh 422 km.


Konsumsi touring gas pol boncengan Tangsel Bandung


Berat motor? dibandingkan dengan beat pop jelas terasa lebih berat tapi ya tidak terlalu signifikan. Jauh lebih berat si biru kemana-mana :) Malah saya kadang terasa PTW ratio (power to weight ratio) Aerox ini angkanya besar sampai kadang ngeri sendiri seperti kegedean power tapi beratnya ringan jadi berasa kurang mantap di aspal.


Saya dengan tinggi badan 170 cm dan duduk di kursi sampai bokong mentok di batas tengah jok (lumbar support) kedua kaki jinjit ke aspal, kurang lebih hampir sama seperti naik si biru. Kalau mau gak jinjit ya agak maju kedepan atau berpijak satu kaki saja.



Pros:

  • Model dengan lekukan garis design yang sporty punya, apalagi kalau udah modif ke monoshock

  • Warna kuning yang eye catching kalau di jalanan

  • Tekuk sana tekuk sini di kemacetan nurut aja yang penting spacenya muat

  • Bagi saya yang sebelumnya selalu besut motor batangan, ketika pakai motor ini tanpa box helm full face dan barang bawaan bisa masuk ke bawah jok itu sesuatu banget deh :) dengan catatan helm full face supaya bisa masuk dibalik ketika masuk bagasi. Jaket dan glove saya masukkan kedalam helm jadi sisi samping helm bisa masuk jas hujan serta kanebo.

  • Riding dengan banyak tikungan di pegunungan pakai speed 30 - 70 kpj joss tenan tenaga gak habis-habis buat gas lagi keluar dari tikungan tapi syaratnya ya gas harus di gantung jangan di tutup full. Power makin tinggi setelah pasang accent wire dan cyclone bisa intip disini

  • Speedometer model futuristik, negative display lengkap dengan penunjuk RPM, trip meter, fuel consumption, dan juga voltmeter
Commuting kantor jalan santai

  • Lampu utama dan rem sudah led ini ngirit listrik banget, dengan semua beban nyala voltase si koneng tetap di 14.4 V. Kalau masih pakai bulb pasti akan drop dibawah 14 V. (Tambahan beban di Koneng yaitu 2 fog lamp, lampu hazzard, serta klakson keong bisa lihat disini dan sini)

  • Rem parkir jadi keunggulan meski rem belakang masih tromol karena ini berguna banget kalau di tanjakan atau turunan motor gak melorot

  • Konsol depan yang include built in charger

  • Body works yang rapat dan tidak ada getaran beda tidak seperti produk K******* yang masih suka mangap-mangap (N250 and N650)
Konfigurasi touring tandem. Full loaded



Cons:
  • Karakter mesin adalah nafas pendek dan torsi besar di bawah, begitu high speed nafasnya habis. Top speed bagi saya tanpa nunduk dan BB 78 kg cuma 110 an Kpj saja. Kalau touring lewat jalan Pantura pasti membosankan juga cuma top di 100an dan suara mesin yang meraung-raung beda tidak seperti Nmax yang lebih dapat high speednya dan mesinnya lebih relax. Kayanya bisa diakali dengan ganti CVT set.

  • High speed cornering diatas 90 kpj suka goyang tidak se stabil kakaknya Nmax terutama di bagian haluan.

  • Tangki bahan bakar terlalu kecil hanya 4.5 Liter jadi sering mampir ke SPBU, tapi ini dimaksudkan oleh Yamaha untuk mengejar akselerasi. Ada beberapa seler di grup FB yang jual tangki dengan kapasitas 7 liter, tapi saya belum mau coba karena masih mudah menemukan SPBU kalau kepepet ya isi yang pinggir jalan.

  • Shock depan suka jedag jedug seperti oblak kalau boncengan lewat jalan keriting lebih terasa lagi tapi ini bisa diakali dengan tambah volume shock nya 10 mL masing-masing

  • Shock belakang banyak yang bilang keras tapi saya yang biasa dengan sport bike sih biasa saja ya malah ini bikin stabil. Aerox yang baru VIN 2018 sudah dapat perbaikan di shock belakang yang lebih besar sehingga lebih stabil dan shock depan nya tidak separah jedag jedug nya seperti yang 2017.

  • Jok belakang tidak selebar dan seempuk kakaknya Nmax, kalau lewat jalan rusak cukup bikin menderita yang dibonceng

  • Rem nya senin kamis terutama yang depan di rem hari Senin berhentinya hari Kamis, hahahaha bisa aja di upgrade tapi saya sih setelah ganti ban Pirelli sudah merasa cukup.

  • Engine break terasa minim, setelah lepas gas pun motor berasa ngeloyor terus tidak ada perlambatan.

  • Standar samping, standar tengah bahkan dek bawah motor sering jadi korban kalau kita nikung terlalu miring. Setidaknya ini mengobati top speed yang tidak tinggi tapi chicken strip habis kanan kiri dan standar pada gesek aspal sudah memberikan kepuasan tersendiri.






  • Kantong depan buat taruh barang menurut saya masih kurang, masih lebih banyak dan enak kakaknya punya Nmax.

  • Untuk modif lampu passing pun repot tidak bisa pakai tuas seperti motor laki dan Nmax yang PnP dengan pulsar punya atau vixion. Karena di aerox ini semi built in dengan cover stang nya tidak seperti Nmax yang terbuka bisa ganti handle nya saja.

  • Kotoran dari ban nyiprat kemana-mana terutama yang depan jadi nya saya pasang mud guard lagi bisa cek sini.





Verdict
Aerox motor yang bisa dibilang mendapat skor tinggi di model nya dan fiturnya yang saya sebutkan diatas. Semua motor pasti tetap ada kekurangannya namanya juga buatan manusia. Tapi kalau memang suka dengan modelnya ya beli saja daripada kebawa mimpi terus, hehehe


semoga bermanfaat.....

Boncengan lewat Cikalong Wetan, joss tenan sisi kanan habis